"Na- Naira?!, engkau terbangun?" Kaget Erik dengan gagap ketika melihat Naira membuka matanya. "E- Erik...?" Tanya Naira dengan suara pelan.
"Pu- Put panggil dok-" "Rik.. Tidak perlu!" Tangan Naira yang lemah memegang tangan Erik, mencegah Erik dan Putri yang ingin memanggil dokter.
"Erik.. Terimakasih sudah datang... Aku ingin bertemu denganmu, kenapa engkau tidak membalas pesanku dan tidak pernah mengangkat telefon dariku?" Tanya Naira dengan lemas. "Karena... aku sangat sibuk Ra, ku mohon maafkan aku.." Jawab Erik sambil memohon - mohon kepada Naira. "Sebelum engkau berkata begitu.. Aku sudah mema'afkanmu.." Ucap Naira dengan senyuman di bibirnya..
Erik dan Putri yang melihat senyuman Naira segera membalasnya, begitu senang hati mereka karena mereka dapat rukun kembali.
Sudah beberapa hari berlalu, tetapi Erik dan Putri sangat heran dengan keadaan Naira yang tidak mengalami kemajuan.
"Erik, aku memiliki permohonan.." Ucap Naira pada Erik.
"Apa permohonanmu itu?" Tanya Erik. "Aku ingin kita berdua pergi ke pantai hari ini, aku ingin melihat Sunset..." Jawab Naira dengan sedikit ketakutan.
Meskipun tidak dapat izin.. Naira tetap memohon kepada pihak rumah sakit dan ibunya. Nairapun berjanji akan pulang setelah melihat Sunset kalau permohonannya tak terturuti Naira akan mogok minum obat dan mogok makan, "Kalau begitu boleh.." Jawab ibunya dengan terpaksa...
Sorepun tiba, Naira sungguh tak sabar untuk melihat Sunset bersama Erik..
"Naira.." Panggil Erik dengan lembut. "Apa?" Balas Naira.
"Aku sudah membuat lagu baru Ra... Apa engkau ingin mendengarnya?" Tanya Erik. "Iya.. Cepatlah!" Jawab Naira dengan penasaran.
Langsung Erik mengambil gitar di mobilnya dan memetik ditar tersebut dengan lembut..
"Engkau yang membuatku sadar....
Engkau yang membuatku ingat...
Tetapi, mengapa engkau pergi...
Disaatku sangat mencintaimu..." Suara merdu Erik dan Suara lembut petikan gitarnya membuat hati Naira berdebar kencang.
"Prok... prok... prok..., bagus Rik." Naira menepuk kedua tangannya karena dia sangat terkagum dengan Erik. "Makasih Ra..." Balas Erik.
Segera Erik mendekatkan wajahnya ke wajah Naira dan mengecup kening Naira...
Setelah itu mereka melihat keindahan Sunset dan berkata , "Love U" dalam hati mereka.
Ke'esokannya Erik mendapat telfon dari Ibu Naira untuk datang ke Rumah Sakit secepatnya...
Dengan tergesa - gesa Erik berangkat dan sampai di Rumah Sakit.
"Ada apa tante?" Tanya Erik dengan nafas yang belum teratur. "Begini, tiba - tiba keadaan Naira memburuk. Dia ingin bertemu denganmu sekarang..." Jawab ibu Naira dengan wajah sedih.
Erik segera masuk ke ruang rawat Naira dan terkejut dengan kondisi Naira.
"E- rik..." Sapa Naira berusaha tersenyum, tetapi apadaya bagi Naira berkata saja sudah susah. "Apa Naira?, apa?!" Balas Erik dengan tangisan yang membasahi kedua pipinya. "Nya- nyikan .... La- gu... yang kemarin en- kau... Nyanyikan.." Suruh Naira dengan berbata - bata. "Tapi dengan keadaanmu begini.. Nyanyianku akan memperburuk kondisimu.." Tolak Erik.
"PLEASE RIK!!" Sentak Naira... "Nak Erik, cepatlah!" Suruh ibu Naira di belakang Erik...
Akhirnya Erik menyanyikan lagu itu...
"Engkau yang membuatku sadar....
Engkau yang membuatku ingat...
Tetapi, mengapa engkau pergi...
Disaatku sangat mencintaimu..." , betapa terkejutnya Erik dan ibunya ketika melihat Naira menutup matanya.. 'Tittt...' Suara pada sensor detak jantung Naira.
"Na- Naira?, eng- engkau pergi?!" Kaget Erik yang membuatnya 'shock'. "Naira..?!" Teriak Erik dan ibu Naira di dalam ruang pasien tersebut...
"Sudahlah, relakan kepergiannya..." Ucap dokter sambil memegang pundak Erik dan ibu Naira. Kamar pasien tersebut diguyur hujan tangis dan rasa duka...
"Tuhan, bahagiakan hidupnya.. Sudah ku relakan hidupnya agar bahagia di surga.." Ucap Erik di dalam hatinya.
"Erik, aku bertahan hidup karena ingin mendengar lagu terakhir untuk lagu slamat tinggal bagi kita.. Janganlah bersedih lagiii" Ucap Naira di alam sana dengan Senyuman lebar...
THE END
Jangan lupa di comment dan di kritik, saran...
Thanks for Readingg... ^.^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar