Rabu, 26 Oktober 2011

Nyanyian terakhir untuk Naira #Ending

Happy Reading... ^-^


"Na- Naira?!, engkau terbangun?" Kaget Erik dengan gagap ketika melihat Naira membuka matanya. "E- Erik...?" Tanya Naira dengan suara pelan.
"Pu- Put panggil dok-" "Rik.. Tidak perlu!" Tangan Naira yang lemah memegang tangan Erik, mencegah Erik dan Putri yang ingin memanggil dokter.
"Erik.. Terimakasih sudah datang... Aku ingin bertemu denganmu, kenapa engkau tidak membalas pesanku dan tidak pernah mengangkat telefon dariku?" Tanya Naira dengan lemas. "Karena... aku sangat sibuk Ra, ku mohon maafkan aku.." Jawab Erik sambil memohon - mohon kepada Naira. "Sebelum engkau berkata begitu.. Aku sudah mema'afkanmu.." Ucap Naira dengan senyuman di bibirnya..
Erik dan Putri yang melihat senyuman Naira segera membalasnya, begitu senang hati mereka karena mereka dapat rukun kembali.

Sudah beberapa hari berlalu, tetapi Erik dan Putri sangat heran dengan keadaan Naira yang tidak mengalami kemajuan.

"Erik, aku memiliki permohonan.." Ucap Naira pada Erik.
"Apa permohonanmu itu?" Tanya Erik. "Aku ingin kita berdua pergi ke pantai hari ini, aku ingin melihat Sunset..." Jawab Naira dengan sedikit ketakutan.
Meskipun tidak dapat izin.. Naira tetap memohon kepada pihak rumah sakit dan ibunya. Nairapun berjanji akan pulang setelah melihat Sunset kalau permohonannya tak terturuti Naira akan mogok minum obat dan mogok makan, "Kalau begitu boleh.." Jawab ibunya dengan terpaksa...

Sorepun tiba, Naira sungguh tak sabar untuk melihat Sunset bersama Erik..
"Naira.." Panggil Erik dengan lembut. "Apa?" Balas Naira.
"Aku sudah membuat lagu baru Ra... Apa engkau ingin mendengarnya?" Tanya Erik. "Iya.. Cepatlah!" Jawab Naira dengan penasaran.
Langsung Erik mengambil gitar di mobilnya dan memetik ditar tersebut dengan lembut..

"Engkau yang membuatku sadar....
Engkau yang membuatku ingat...
Tetapi, mengapa engkau pergi...
Disaatku sangat mencintaimu..." Suara merdu Erik dan Suara lembut petikan gitarnya membuat hati Naira berdebar kencang.

"Prok... prok... prok..., bagus Rik." Naira menepuk kedua tangannya karena dia sangat terkagum dengan Erik. "Makasih Ra..." Balas Erik.
Segera Erik mendekatkan wajahnya ke wajah Naira dan mengecup kening Naira...
Setelah itu mereka melihat keindahan Sunset dan berkata , "Love U" dalam hati mereka.

Ke'esokannya Erik mendapat telfon dari Ibu Naira untuk datang ke Rumah Sakit secepatnya...
Dengan tergesa - gesa Erik berangkat dan sampai di Rumah Sakit.

"Ada apa tante?" Tanya Erik dengan nafas yang belum teratur. "Begini, tiba - tiba keadaan Naira memburuk. Dia ingin bertemu denganmu sekarang..." Jawab ibu Naira dengan wajah sedih.
Erik segera masuk ke ruang rawat Naira dan terkejut dengan kondisi Naira.

"E- rik..." Sapa Naira berusaha tersenyum, tetapi apadaya bagi Naira berkata saja sudah susah. "Apa Naira?, apa?!" Balas Erik dengan tangisan yang membasahi kedua pipinya. "Nya- nyikan .... La- gu... yang kemarin en- kau... Nyanyikan.." Suruh Naira dengan berbata - bata. "Tapi dengan keadaanmu begini.. Nyanyianku akan memperburuk kondisimu.." Tolak Erik.
"PLEASE RIK!!" Sentak Naira... "Nak Erik, cepatlah!" Suruh ibu Naira di belakang Erik...

Akhirnya Erik menyanyikan lagu itu...

"Engkau yang membuatku sadar....
Engkau yang membuatku ingat...
Tetapi, mengapa engkau pergi...
Disaatku sangat mencintaimu..." , betapa terkejutnya Erik dan ibunya ketika melihat Naira menutup matanya.. 'Tittt...' Suara pada sensor detak jantung Naira.

"Na- Naira?, eng- engkau pergi?!" Kaget Erik yang membuatnya 'shock'. "Naira..?!" Teriak Erik dan ibu Naira di dalam ruang pasien tersebut...
"Sudahlah, relakan kepergiannya..." Ucap dokter sambil memegang pundak Erik dan ibu Naira. Kamar pasien tersebut diguyur hujan tangis dan rasa duka...

"Tuhan, bahagiakan hidupnya.. Sudah ku relakan hidupnya agar bahagia di surga.." Ucap Erik di dalam hatinya.

"Erik, aku bertahan hidup karena ingin mendengar lagu terakhir untuk lagu slamat tinggal bagi kita.. Janganlah bersedih lagiii" Ucap Naira di alam sana dengan Senyuman lebar...


THE END


Jangan lupa di comment dan di kritik, saran...
Thanks for Readingg... ^.^

Senin, 24 Oktober 2011

My First Novel

Nyanyian terakhir untuk Naira


Happy Reading... ^-^



"Hai, saya Naira Safitri. Saya gadis SMA kelas 1 yang pintar dan cantik, bisa di bilang saya memiliki banyak penggemar. Saya juga sudah memiliki kekasih, bernama Erik. Dia sungguh hebat dalam bernyanyi dan basket, yang sangat ku suka darinya ialah ketika dia memegang gitar." Itulah awalan dari diary merah dengan kunci berbentuk hati di pinggirnya.
Benar, pemilik buku ini pasti Naira Safitri.
Minggu lalu ialah hari sedih bagi Naira, yaitu hari kepergian Erik, karena hari itu Erik mengikuti lomba basket tingkat Nasional.

Naira sungguh menggilai kekasihnya, setiap 15 menit Naira mengirimkan SMS untuk Erik. Tetapi Erik hanya menyempatkan dirinya untuk istirahat, latihan dan makan.

Hari ini Naira sangat khawatir dengan keadaan Erik, karena Erik belum juga membalas pesannya.

"Apakah keadaanmu baik - baik saja, Rik?" Gumam Naira pelan pada siang ini. "Sudahlah dik, Erik pasti baik - baik saja." Ucap Kakak Naira di sebelahnya, mencoba menenangkan kegelisahan di hati Naira.
"Sarapanlah terlebih dahulu, kalau engkau sakit malah merepotkan.." Pintah kakak Naira. Tetapi Naira tidak ingin melakukan apa - apa, dia hanya mengurung diri di kamar, menunggu balasan pesan dari Erik.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya ibu Naira di luar kamar Naira. "Baik - baik saja, tetapi dia sudah 1 minggu tidak makan.. Apakah penyakitnya tidak kambuh bu?" Tanya kakak Naira balik. "Itu yang ibu khawatirkan, penyakitnya.." Jawab ibu Naira.. Tetapi mereka berdua hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Karena mereka tidak dapat berbuat apa - apa.

Hingga 2 hari kemudian, Naira merasa pusing dan sakit perut yang luar biasa.

"Mama.. Kakak.. Perutku sakit." Ucap Naira dengan suara pelan dan tak bertenaga. "Mama!, Kakak!" Teriak Naira memanggil keduanya.
"Ada apa nak?" Tanya ibu Naira, dan betapa terkejutnya ibu Naira ketika melihat putrinya tertidur di lantai sambil memegangi kepala dan perutnya. "Cepat telfon ambulan!" Suruh ibu Naira dengan panik.

Akhirnya Naira di bawa ke rumah sakit umun untuk diperiksa keadaannya.

"Bagaimana dok, keadaannya?" Tanya ibu Naira dengan isak tangis dan jatuhan airmata di pipinya. "Begini, penyakit maagnya kambuh dan menjadi parah.." Jelas dokter dengan wajah serius. "Oh ya, kalau boleh panggilkan seseorang dengan nama 'Erik dan Putri'. Dalam keadaan koma, pasien selalu memanggil - manggil dua nama tersebut." Lanjut dokter lagi.
"Erik dan Putri?, kalau tidak salah.. Mereka itu teman Naira." Ucap ibu Naira di dalam hati. Tanpa berfikir panjang ibu Naira menelfon seseorang dengan kontak 'Putri' di ponsel Naira.
Setelah mendapatkan persetujuan orang tuanya, Putri segera menuju ke Rumah Sakit Umum.

"Naira kenapa tante?" Tanya Putri dengan nafas yang belum teratur, dia sangat kelelahan karena dia telah berlari menuju ke depan ruang UGD.
"Begini.." Ibu Nairapun menjelaskan semuanya kepada Putri. "Dasar Erik!!" Kesal Putri ketika diceritakan kejadian yang menimpa Naira.
"Tenang nak, sekarang mari kita jenguk Naira dan mencoba mengajak Erik." Ucap ibu Naira.

Putri menelfon Erik dengan perasaan kesal. Sangat lama menunggu jawaban dari Erik, tetapi akhirnya di angkat juga oleh Erik.

Erik sungguh kaget mendengar berita ini, dia izin pulang untuk menjenguk keadaan Naira.

Di rumah sakit, sudah berkumpul Putri dan Erik. Segera mereka berdua masuk dan melihat keadaan Naira.

"Na- Naira, demi diriku.. Engkau menjadi begini?" Kaget Erik ketika melihat keadaan Naira..

Tubuh Naira dengan beberapa selang penyalur O2 dan beberapa infus. "Kau tau Rik?, kenapa dia masih bertahan hidup?" Tanya Putri. "Dengarkanlah ini.." Suruh Putri dan memberikan headset yang di pakai oleh Naira sebelumnya.
Langsung Erik memasang wajah kagetnya, "Di- dia masih bertahan karena, masih mendengarkan lagu ciptaanku?!" Ucap Erik dengan berbata - bata.
"Maaf Ra, aku memang seseorang yang bodoh. Maaf Ra!!".
Tiba - tiba Naira menggerakkan sedikit tangannya dan membuka matanya perlahan, seakan Naira bangun dengan permintaan maaf Erik.

"Na- Naira?!, engkau terbangun?"



Bersambung..........

Tungguin kelanjutannya dan Jangan lupa comment ya...
Kritik dan saran sungguh di butuhkan, karena masih pemula..